~Ombak Kelabu~
Deru ombak sore yang berbaur dengan dua hati yang saling
berguncang.Keegoisan mulai mencuat dan mencari celah-celah relung batin yang
resah karena dunia.
“Maaf Mas,ini semua
Laras lakukan bujan untuk kebaikan kita saja.Kita sudah melangkah sejauh
ini,dan Laras semakin takut.Laras takut mengecewakan mereka,terutama Ibu.Laras
semakin tidak nyaman ketika beliau mengetahui bahwa kita masih bersama”.
Akhirnya saat-saat itu dating dan hinggap dalam
kehidupanku.Siap untuk merenggut semua yang telah lama aku
pertahankan.Keputusan yang diamini oleh sepihak.
“Lantas,apakah
kau akan mengakhiri semua ini? Semua yang sudah kita susun bersama dari
awal?.Sepertinya baru kemarin saja kau begitu bersemangat dengan semua ini
Laras.Tetapi hari ini semangatmu seperti hilang tersapu ombak dan hilang entah
kemana.”
“Mas Bram boleh
berkata apa saja tentang Laras,kali ini Laras memang menjadi seorang pengecut
yang sesungguhnya.”
“Ya,benar.Kali
ini kau bukan Larasku yang biasanya kukenal.Bukan lagi Larasku yang menyatu
dengan hatinya.Lalu kau yakin dengan keputusanmu kali ini?” aku tak ingin
menunjukkan sedikitpun kesedihan kepadanya.
“Besok pagi Laras
ke Bogor,keluarga Laras dan Bang Iwan akan bertemu.Mereka akan menentukkan hari
jadi kami.”
“Haruskah secepat
itu?”
“Cepat atau lambat semua ini akan terjadi Mas,maafkan Laras.Mungkin di
luar sana sosok yang melebihi Laras akan lebih pantas bersanding dengan Mas
Bram nantinya.Hanya itu yang Laras ingin sampaikan pada Mas Bram,selebihnya
Laras sangat minta maaf pada Mas Bram.Hari sudah gelap,Laras izin pamit
pulang.”